Di sebuah gunung yg senantiasa
diselimuti salju yg terletak di Timur Turki, tersembunyi sebuah misteri
“berharga” yang berusia lebih dari 5000 tahun.
Peninggalan sejarah yg maha berharga
itu bukan saja menarik minat para pengkaji Sejarah saja, namun pihak penyelidik
US seperti CIA/KGB pun mencoba untuk melakukan penelitian disana. Sejauh ini
CIA telah menggunakan satelite dan pesawat ‘Stealth’ utk mengambil gambar objek
yg terdampar di puncak gunung tersebut. Gambar-gambar itu telah menjadi
“rahasia besar” dan tersimpan rapi dengan kawalan yg ketat bersama dengan
“rahasia-rahasia″ penting yg lain di Pentagon. Sudah beratus-beartus orang
mencoba untuk mendaki Gunung Aghi-Dahl yg kerap dijuluki juga sebagai
“Gunung Kesengsaraan” atau dengan nama peta-nya yaitu Mount Ararat, namun hanya
beberapa orang saja yang berhasil menaklukannya. Sebagian lagi selebihnya
hanyalah menambah deretan panjang pendaki-pendaki yang menjadi korban
keganasannya. Hingga hari ini, hanya ada beberapa orang pendaki yg dapat sampai
ke puncak Mt. Ararat sekaligus dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri
sebuah artifak yang ‘maha berharga’ tersimpan abadi dipuncaknya.
Lalu apakah sebenarnya artifak “maha berharga” yang terkubur selama ribuan tahun di puncak Ararat itu?
Lalu apakah sebenarnya artifak “maha berharga” yang terkubur selama ribuan tahun di puncak Ararat itu?
Menurut para ahli kepurbakalaan,
mereka menafsirkan bahwa artifak dengan dimensi yang sangat besar tersebut tak
lain adalah The Great Noah Ark (Perahu/Bahtera
Nabi Nuh)!
Seperti yang kita ketahui bahwa The
Great Pyramid of Giza, Mesir telah terkubur didalam tanah selama kurang lebih
2.000 tahun lamanya sebelum ditemukan dan dilakukan penggalian terhadapnya.
Begitu pula halnya dengan The Great Noah Ark, sebelum terjadinya sebuah
gempa bumi hebat yang melanda daerah itu pada 2 Mei 1988 silam, artifak tersebut
tertimbun di bawah salju hampir selama 5.000 tahun lamanya tanpa ada yang
mengetahui bahwa sebenarnya tersimpan sebuah rahasia besar didalamnya.
Sebenarnya, zaman Nabi Nuh AS dulu
tidaklah seprimitif yg kita semua bayangkan. Pada hakikatnya pengetahuan Sains
dan teknologi mereka sudah maju pada masa itu.
Contohnya dari beberapa hasil temuan
di kaki Mount Ararat, Para Pengkaji dan Scientist Russia telah menemui lebih
kurang 500 kesan artifak batu baterai elektrik purba yg digunakan untuk
menyadurkan logam. Tentunya temuan tersebut bisa membuktikan bahwa masyarakat
zaman Nabi Nuh AS telah mengenal listrik.
Mengikut perkiraan para ahli, Nabi
Nuh AS kira-kira memulai membangun bahteranya pada tahun 2465 B.C dan hujan
lebat baru turun dan mengguyur bumi selama bertahun-tahun sehingga
mengakibatkan munculnya air bah maha dasyat yang rata-rata dapat mengakhiri
sebagian populasi manusia dimuka bumi diperkirakan terjadi pada 2345 B.C.
Rupa bentuk dari The Great Noah Ark itu sendiri sebenarnya tidak sama
dengan bentuk kapal laut masa kini pada umumnya. Menurut para peneliti dan
pendaki yang pernah melihat langsung “Noah Ark” di puncak Mt.
Ararat serta beberapa image yang diambil dari pemotretan udara, The Great Noah
Ark memang merupakan sebuah bahtera yang berdimensi sangat besar dan kokoh.
Kontruksi utamanya tersusun oleh
susunan kayu dari species pohon purba yg memang sudah tidak bisa ditemui lagi
didunia ini alias sudah punah. Pengukuran obyek yang ditandai mempunyai
altitude 7.546 kaki (1 kaki = 0.3048 meter) dengan panjang dari bahtera kurang
lebih 500 kaki, 83 kaki lebar, dan 50 kaki tinggi. Ada juga Para Pengkaji
berpendapat, “Noah Ark” berukuran lebih luas dari sebuah lapangan sepak bola.
Luas pada bagian dalamnnya cukup untuk menampung ratusan ribu manusia. Jarak dari satu tingkat ke satu tingkat lainnya ialah 12 hingga ke 13 kaki. Sebanyak kurang lebih ribuan sampai pulahan ribu balok kayu digunakan untuk membangunnya.
Luas pada bagian dalamnnya cukup untuk menampung ratusan ribu manusia. Jarak dari satu tingkat ke satu tingkat lainnya ialah 12 hingga ke 13 kaki. Sebanyak kurang lebih ribuan sampai pulahan ribu balok kayu digunakan untuk membangunnya.
Totalnya, terdapat kurang lebih
ratusan ribu manusia dan hewan dari berbagai species yang ikut menaiki bahtera
ini, Mengikuti kajian dari Dr. Whitcomb, kira-kira terdiri 3.700 binatang
mamalia, 8.600 jenis itik/burung,6300 jenis reptilia,2500 jenis amfibi yang
menaiki The Great Noah Ark tersebut, sisanya adalah para kaum Nabi Nuh AS yang
percaya akan ajaran yang dibawanya. Total berat kargo/muatan bahtera itu
keseluruhan mungkin mencapai kurang lebih 24,300 ton.
Di sekitar obyek tersebut, juga
ditemukan sebuah batu besar dengan lubang pahatan. para peneliti percaya bahwa
batu tersebut adalah “drogue-stones”, di mana pada zaman dahulu biasanya
dipakai pada bagian belakang perahu besar untuk menstabilkan perahu. Radar dan
peralatan mereka menemukan sesuatu yang tidak lazim pada level “iron oxide”
atau seperti molekul baja. Struktur baja tersebut setelah dilakukan penelitian
bahwa jenis “vessel” ini telah berumur lebih dari 100.000 tahun, dan terbukti
bahwa struktur dibuat oleh tangan manusia. Mereka percaya bahwa itu adalah
jejak pendaratan perahu Nuh.
Beberapa sarjana berpendapat bahwa kemungkinan
besar ‘Noah Ark’ ini dibangun disebuah tempat bernama Shuruppak, yaitu sebuah
kawasan yg terletak di selatan Iraq.
Jika ia dibangun di selatan Iraq dan
akhirnya terdampar di Utara Turkey, kemungkinan besar bahtera tersebut telah
terbawa arus air sejauh kurang lebih 520 Km. Mt.Ararat itu sendiri bukanlah
sembarang gunung, ia adalah sebuah gunung yang unik. Diantara salah satu
keunikan yang terdapat pada gunung ini ialah, pada setiap hari akan muncul
pelangi pada sebelah utara puncak gunung itu.
Mt.Ararat ini ialah salah satu
gunung yang mempunyai puncak yang terluas di muka bumi ini. Statusnya juga
merupakan puncak tertinggi di Turki yaitu setinggi 16,984 kaki dari permukaan
air laut. Sedangkan puncak kecilnya setinggi 12,806 kaki .Jika kita berhasil
menaklukkan puncak besarnya, kita dapat melihat 3 wilayah negara dari atasnya,
yaitu “Russia, Iran, dan Turkey”.
Sebuah “batu nisan” yang didakwa
kepunyaan Nabi Nuh AS telah dijumpai di Mt. Lebanon di Syria. Batu nisan itu
berukuran 120 kaki panjang.
Pada tahun 1917, Raja Russia Tsar Nicholas II mengirim sejumlah 150 orang pakar dari berbagai bidang yg terdiri dari saintis, arkeolog dan tentara untuk melakukan penyelidikan terhadap The Great Noah Ark tersebut.
Setelah sebulan, tim ekspedisi itu baru
sampai ke puncak Ararat. Segala kesukaran telah berhasil mereka lewati, dan
akhirnya menemukan perahu Nuh tersebut. Dalam keadaan terkagum, mereka
mengambil gambar sebanyak mungkin mengukur panjang perahu Noah dan didapati
berukuran panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki, sebagian lainnya
tenggelam di dalam salju. Hasil dari perjalanan itu dibawa pulang dan mau
diserahkan kepada Tsar, malangnya sebelum sempat melaporkan temuan itu ke
tangan kaisar, Revolusi Bolshevik Komunis (1917) meletus. Laporan itu akhirnya
jatuh ke tangan Jenderal Leon Trotsky. Sehingga sampai sekarang masih belum
diketahui, apakah laporan itu masih disimpan atau dimusnahkan.
Mari kita melihat lebih mendalam
tengang awal penemuan bahtera Nabi Nuh As. Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang
terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat.
Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah
tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu di daerah
tersebut berserakan. Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan
tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya
mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ.
Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa
lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan
rahasia yang sangat besar di dalamnya.
Mereka mengekskavasi tempat tersebut
dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan
kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan
hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang
yang berbentuk persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa
potongan kayu yang berukuran 14×10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh
lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain.
Setelah waktu penelitian yang
memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil
kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi
Nuh AS yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu
tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian
dari bahtera tersebut. Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan
potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh AS, timbullah pertanyaan tentang kalimat
apakah yang tertera di potongan kayu tersebut.
1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China
3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
7. Mayor Cottor, Stalin College
Kemudian ketujuh orang pakar ini
setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil
kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan
untuk membangun bahtera Nabi Nuh AS, dan bahwa Nabi Nuh AS telah meletakkan
pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan
untuk mendapatkan ridho Illahi.
Terletak di tengah-tengah dari pelat
tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir
beberapa kata dari bahasa Saamaani. Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah
menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:
“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari TubuhMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”
Semuanya sangatlah terkejut setelah
mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah
bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap
dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.
Pelat kayu tersebut saat ini masih
disimpan dengan rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia. Jika anda
sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat
tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap
kedudukan Ahlul Bayt AS.
1. Weekly – Mirror, Inggris 28 Desember 1953
2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954
3. Manchester Sunlight, 23 Januari 1954
4. London Weekly Mirror, 1 Februari 1954
5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954
6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969
Semoga shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW, sang kekasih Allah, keluarganya, dan
kepada para sahabatnya.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Rasulullah SAW dengan shalawat yang membuat dada menjadi lapang, berbagai urusan menjadi lapang, berbagai urusan menjadi mudah, berbagai penghalang menjadi terbuka dan sampaikan kepadanya salam yang banyak, berkesinambungan hingga Hari Kiamat. Seruan mereka di sana adalah “Mahasuci Engkau Ya Allah,” Penghormatan mereka di sana adalah “Salam.” Dan akhir ucapan mereka adalah “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Yunus : 10).
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Rasulullah SAW dengan shalawat yang membuat dada menjadi lapang, berbagai urusan menjadi lapang, berbagai urusan menjadi mudah, berbagai penghalang menjadi terbuka dan sampaikan kepadanya salam yang banyak, berkesinambungan hingga Hari Kiamat. Seruan mereka di sana adalah “Mahasuci Engkau Ya Allah,” Penghormatan mereka di sana adalah “Salam.” Dan akhir ucapan mereka adalah “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Yunus : 10).
Catatan: Shabbar dan Shabbir adalah bahasa Sarmani yang artinya
Hasan dan Husain (Putra Pasangan agung Imam Ali AS dan Fathimah AS, dan cucu
kesayangan Rosulullah), kelima nama tersebut dalam Islam sering disebut dengan
“Ahlul Kisa”
Adakah
Orang yang Pernah Melihat Kapal Nabi Nuh?
Selama lebih dari dua dekade
terakhir pencarian kapal Nabi Nuh telah memperoleh perhatian internasional.
Lusinan ekspedisi ke daerah Ararat di sebelah timur Turki, kebanyakan dilakukan
oleh kelompok Kristen Amerika, telah menuntun kepada banyak klaim – tetapi
tidak ada bukti.
Menurut Kitab Suci, kapal Nabi Nuh AS merupakan suatu perahu besar yang dibuat dari kayu gofir dan ditutup dengan pakal. Ukuran keseluruhannya adalah panjang 450 kaki, lebar 75 kaki dan tinggi 45 kaki dengan tiga geladak di dalam. Sebuah “jendela” dibuat di bagian atas (Kejadian 6:14-16). Sepintas, ukuran keseluruhan kapal ini menjadikannya kendaraan laut terbesar yang ada sebelum abad ke-20, dan proporsinya secara menakjubkan mirip dengan kapal laut besar yang ada sekarang. Kitab Suci mengatakan bahwa kapal Nabi Nuh kandas di “pegunungan Ararat” (Kejadian 8:4). “Ararat” mungkin menerangkan suatu daerah (kerajaan kuno Urartu) dan bukan puncak gunung secara khusus. Setelah Nabi Nuh dan keluarganya meninggalkan kapal di atas gunung, kapal tersebut tidak pernah disebut-sebut lagi dalam Kitab Suci. Kemudian penulis-penulis Kitab Suci tidak pernah menyatakan bahwa mereka tahu bahwa kapal tersebut masih dapat dilihat.
Menurut Kitab Suci, kapal Nabi Nuh AS merupakan suatu perahu besar yang dibuat dari kayu gofir dan ditutup dengan pakal. Ukuran keseluruhannya adalah panjang 450 kaki, lebar 75 kaki dan tinggi 45 kaki dengan tiga geladak di dalam. Sebuah “jendela” dibuat di bagian atas (Kejadian 6:14-16). Sepintas, ukuran keseluruhan kapal ini menjadikannya kendaraan laut terbesar yang ada sebelum abad ke-20, dan proporsinya secara menakjubkan mirip dengan kapal laut besar yang ada sekarang. Kitab Suci mengatakan bahwa kapal Nabi Nuh kandas di “pegunungan Ararat” (Kejadian 8:4). “Ararat” mungkin menerangkan suatu daerah (kerajaan kuno Urartu) dan bukan puncak gunung secara khusus. Setelah Nabi Nuh dan keluarganya meninggalkan kapal di atas gunung, kapal tersebut tidak pernah disebut-sebut lagi dalam Kitab Suci. Kemudian penulis-penulis Kitab Suci tidak pernah menyatakan bahwa mereka tahu bahwa kapal tersebut masih dapat dilihat.
Pegunungan yang disebut Ararat
sekarang lebih nampak seperti daerah pegunungan dengan dua puncak. Yang
menarik, ada banyak laporan sepanjang sejarah mengenai perahu besar di
pegunungan di daerah ini. Keterangan yang paling awal (bermula pada abad ke-3
S.M.) menyatakan bahwa sudah diketahui secara umum bahwa kapal Nabi Nuh itu
masih dapat dilihat di pegunungan Ararat.
Laporan-laporan selama lebih dari
seabad terakhir ini berkisar dari kunjungan ke kapal tersebut, sampai penemuan
kayu, sampai foto pemandangannya. Secara umum dipercaya bahwa
sekurang-kurangnya sebagian besar dari kapal itu masih utuh, tidak di atas
puncak yang tertinggi, tetapi di suatu tempat di atas 10.000 kaki. Terperangkap
dalam salju dan es hampir sepanjang satu tahun, hanya pada musim panas yang
hangat saja struktur kapal tersebut dapat dilihat atau didekati. Beberapa orang
mengatakan telah memanjat atapnya, yang lainnya mengatakan mereka telah
berjalan-jalan di dalamnya.
Pada tahun 1980-an, “ark-eology”
mendapat kehormatan dengan berpartisipasinya mantan astronot NASA James Irwin
dalam ekspedisi ke pegunungan. Sebagai tambahan, investigasi kapal Nabi Nuh
diuntungkan dengan pecahnya Uni Soviet, karena pegunungan tersebut tepat berada
di perbatasan Turki-Soviet. Ekspedisi ke atas pegunungan selalu dianggap
sebagai ancaman keamanan oleh pemerintah Soviet.
Sayangnya, kunjungan-kunjungan ke situs yang diusulkan tidak menghasilkan bukti lebih lanjut, tempat beradanya foto-foto tidak diketahui lagi, dan peninjauan yang berbeda tidak menuju ke lokasi yang sama di pegunungan. Lebih dari itu, astronot James Irwin telah meninggal, seorang saksi mata inti telah menarik diri dari hadapan publik, dan sudah ada beberapa ekspedisi baru ke pegunungan di tahun 1990-an.
Tetapi usaha-usaha masih tetap
berjalan. Sementara Asosiasi untuk Penelitian Kitab Suci (Associates for
Biblical Research) tidak terlibat dalam usaha-usaha ini, kami melanjutkan
penelitian tentang laporan-laporan kuno, pengakuan lebih lanjut dari saksi mata
dan memperbaharui usaha untuk menentukan tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh.
Masih banyak ekspedisi yang menunggu. Jika kapal tersebut memang ada di atas
sana, kita akan mendengar beritanya.
Adapun tentang bahtera Nabi Nuh as ini
sesungguhnya Allah swt telah meninggalkannya sebagai salah satu dari tanda
kebesaran-Nya dan agar orang-orang yang datang setelahnya dapat mengambil
pelajaran dari kejadian yang dialami oleh Nuh dan orang-orang yang bersamanya
yang kemudian diselamatkan dengan bahtera itu sementara orang-orang yang kafir
terhadapnya ditenggelamkaan oleh Allah swt, sebagaimana firman-Nya :
Artinya : “Dan Sesungguhnya telah kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS. Al Qomar : 15 – 16)
Sedangkan keberadaan bahteranya
setelah Allah swt menyelamatkannya serta orang-orang yang bersamanya juga telah
disebutkan didalam firman-Nya :
Artinya : “Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim .” (QS. Huud : 44)
Ararat,
Tempat Kapal Nabi Nuh Berlabuh
Banyak website yang ramai
membicarakan klaim bantera Nabi Nuh telah ditemukan di Gunung Ararat,
Turki.Penemu yang dipimpin oleh kelompok evangelis, mengatakan yakin 99,9%
struktur kayu yang ditemukan di sisi gunung itu merupakan bagian dari kapal yang
disebutkan dalam kitab suci.
Kapal itu dikatakan yang menampung
keluarga Nabi Nuh serta berbagai hewan selama kejadian banjir besar pada 4800
tahun lalu.
The Ark Of Noah atau bahtera noah, sebuah kapal yang di buat oleh Nabi Nuh (Noah) yang begitu melekat di hati dan iman kaum Muslim dan Nasrani dan sangat melegenda yang penemuan nya membuat Arkeolog dari seluruh dunia merasa sangat perlu untuk melakukan investigasi di lokasi terdamparnya yaitu di sebuah gunung di wilayah turki yang bernama mount Arafat (Gunung Aghi-Dahl). Pegunungan ini merupakan puncak tertinggi di Turki dan merupakan gunung dengan puncak terlebar di dunia.
Banyak investigasi dilakukan namun
selalu berakhir tragis, banyak yang tak mampu mencapai puncaknya dan meminta
nyawa seolah ingin menyimpan perjalanan sejarah itu dalam selimut dingin nya
misteri. Situs penemuannya pun berhasil ditemukan setelah kurang lebih 5.000
tahun terpendam dalam salju.
Perahu Nuh yang menurut hikayat
telah membawa ribuan makhluk hidup bersama pelayarannya ( terdiri dari hewan
dan beberapa pengikut setia yang mempercayai ajaran kenabian Nuh ) itu di
temukan meskipun bukan dalam utuh sebuah kapal, namun peninggalan berupa
artefak yang berbentuk kapal besar dengan panjang 500 kaki, 83 kaki lebar, dan
50 kaki tingginya. Diperkirakan, Nabi Nuh AS memulai membangun kapalnya itu
pada tahun 2.465 B.C dan hujan deras turun mengguyur bumi bertahun- tahun yang
mengakibatkan munculnya air bah mahadasyat yang dapat menghilangkan sebagian
populasi manusia dimuka bumi yang diperkirakan terjadi pada 2345 B.C, Bentuk
dan rupa kapal Nuh sendiri tidaklah seperti kapal kapal yang ada sekarang,
paling tidak itulah penuturan dari orang orang yang berhasil mencapai puncaknya
dan menyaksikan betapa besar kapal itu, begitu juga hasil foto satelit dari
NASA yang berhasil didapatkan. mungkin lebih tepat disebut seperti benteng.
Konstruksi nya menggunakan kayu
purba yang kokoh dan sudah tidak ada lagi populasi nya sekarang. Punya tinggi
lantai sekitar 12 kaki antara deck nya.seorang profesor memperkirakan kapal itu
mampu memuat 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung, 6.300 jenis
reptilia, 2.500 jenis amfibi dan total berat yang di pikul kapal tersebut
mencapai 24.300 Ton. Beberapa peneliti berpendapat bahwa kemungkinan besar ‘Noah
Ark’ ini dibangun disebuah tempat bernama Shuruppak di wilayah selatan Irak
sekarang, dan dengan begitu lokasi terdamparnya yang berada di TurkiAllah SWT.
sekedar tambahan Nabi Nuh dilantik menjadi Rasul ketika berusia 480 tahun dan
wai’at pada usia 950 tahun.
Namun demikian tetap saja terjadi
perdebatan mengenai lokasi terdamparnya kapal Nabi Nuh tersebut.ada yang
mengatakan berada di sebuah puncak gunung setinggi 4.000 meter di Jazirah Ibnu
Omar di Pulau Butan dan ada juga di lokasi yang saya bahas ini yaitu di di
puncak pegunungan Arafat setinggi 5.165 M ini, dan semua pihak tersebut
mengajukan argumen nya masing2, Waalahuallam bishowab kurang lebih berjarak 520
Kilometer dan konon Nabi Nuh dan semua penumpang nya terombang ambing di
belantara badai angin topan selama 5 bulan sebelum akhirnya berhenti di lokasi
penemuan nya sekarang.Menurut riwayat, ketika bahtera Nuh mendarat makanan
telah habis. Mereka memasak sisa makanan seperti biji rin untuk beberapa
keperluan. Mereka kemudian membuka perkampungan, bercocok tanam dan berternak
sambil tidak lupa beribadah kepada ALLAH.
Klaim mengejutkan dikeluarkan
peneliti ‘Noah’s Ark Ministries International’ dari China dan Turki. Mereka
mengaku menemukan bahtera atau kapal Nabi Nuh yang digunakan untuk menyelamatkan
umat manusia dan mahluk Bumi lainnya dari bencana banjir bah yang diyakini
menenggelamkan separuh dari daratan Bumi, 4.800 tahun silam.Sisa-sisa bahtera
Nuh Nuh ditemukan berada di ketinggian 4.000 meter di Gunung Agri atau Gunung
Ararat, di Turki Timur. Tak hanya mengajukan klaim, kelompok peneliti ini juga
menampilkan foto dan membawa specimen dari kapal sebagai bukti penguat.Mereka
juga membuat rekaman dokumentasi di dalam benda mirip kapal, ukurannya besar,
sebagian besar permukaannya tertutup salju — yang diyakini bahtera Nuh yang
legendaris. Video itu membawa kita masuk ke dalam bahtera Nuh. Seperti dilansir
YouTube, para peneliti memukul-mukul papan-papan coklat, untuk membuktikan itu
terbuat dari kayu.Untuk masuk ke lambung kapal, peneliti harus menggunakan
tambang.
Kisah Nabi Nuh diceritakan dalam
ajaran tiga agama besar, Islam, Kristen, dan Yahudi — memicu misi pencarian
sisa-sisa kapal legendaris tersebut. Klaim penemuan di lokasi Gunung Ararat ini
bukan kali pertamanya. Namun, klaim itu tak ada yang disertai bukti kuat. Pada
1970, seorang pria Armenia Georgie Hagopian, mengklaim telah mengunjungi
bahtera Nuh dua kali sekitar tahun 1908/1910 dan 1906 Hagopian mengklaim dia
menaiki kapal Nuh dan berjalan di atapnya.Lalu ada, Ed Davis, prajurit AS
berpangkat sersan yang bertugas dalam Perang Dunia II di Hamadan, Iran. Dia
dilaporkan telah mendaki Gunung Ararat pada 1943. Dia mengaku bisa mengintip
bagian dalam bahtera itu, namun tak berani untuk mendekat.
Seperti diketahui oleh kita semua
bahwa sekitar bulan April 2010 yang lalu telah diadakan survey penelitian dan
penemuan oleh “Noah’s Ark Ministries International” akan adanya sisa perahu
Nabi Nuh As disalah satu lereng gunung Ararat di Turki. Kita tidak mengetahui
secara pasti kapan perahu tersebut berada disana, namun beberapa prediksi dapat
ditarik dari sejarah dalam Kitab Injil dan Al-Qur’an. Data yang ditemukan pada
waktu ini adalah bahwa lokasi ex perahu tersebut berada pada ketinggian lebih
dari 3.250 m diatas permukaan laut. Hal itu saja telah dapat menggugah nalar
kita untuk berpikir dan membayangkan bahwa kalau posisinya sekarang setinggi
lebih dari 3.250 m, maka seberapa tingginya banjir besar yang terjadi dijaman
Nabi Nuh AS tersebut.
Dari mana datangnya air banjir (laut
banjir) sampai setinggi itu? Kalau disimak dari riwayat dalam Al-Qur’an, maka
datangnya banjir tersebut juga secara tiba-tiba dan serentak, jadi semacam
aliran air yang sangat besar sekali, bahkan bukit-bukit yang adapun semuanya
tenggelam. Selanjutnya kemanakah semua air banjir tesebut ahirnya mengalir,
sehingga perahu Nabi Nuh ahirnya terdampar diposisi lereng gunung pada
ketinggian sekarang lebih dari 3.250 m.
Menurut para ahli peneliti bahwa
keberadaan sosok benda tersebut sebenarnya sudah dicurigai sejak awal tahun
1940-an, kira-kira setelah ditemukannya pesawat terbang. Dari pantauan dengan
menggunakan pesawat terbang, sosok benda tersebut telah banyak menarik
perhatian para pengamat sebagai sosok benda misterius. Ada beberapa faktor alam
yang mendukung terjaganya keberadaan sosok benda tersebut yaitu adanya lapisan
salju yang permanen pada ketinggian tersebut. Dengan demikian maka fosil ex
perahu Nabi Nuh seolah diawetkan selama puluhan abad (atau puluhan millennium),
sampai ahirnya ditemukan secara pasti oleh para ahli pada bulan April 2010 yang
lalu.
Sebagai data hasil penemuan secara
teknis dan teknologis sebenarnya sudah finish, bahkan di Negeri Belanda telah
ada replikanya sama dengan ukuran aslinya. Replika tersebut dibangun oleh
seorang penggemarnya dengan bahan kayu, dengan mengikuti data temuan yang ada,
besarnya kira-kira sama dengan lapangan sepak-bola. Bagi yang ingin melihatnya
dapat disaksikan di Negeri Belanda sebagai obyek wisata yang menarik.
Namun bagi nalar manusia yang mempercayai adanya “Kehendak Tuhan” dibalik semua itu tentunya kenyataan itu menimbulkan banyak pertanyaan, apa sebenarnya rahasia yang ada dibalik penemuan itu.
Namun bagi nalar manusia yang mempercayai adanya “Kehendak Tuhan” dibalik semua itu tentunya kenyataan itu menimbulkan banyak pertanyaan, apa sebenarnya rahasia yang ada dibalik penemuan itu.
Pada waktu sekarang melalui
kecanggihan citra satellit dan sarana “Google-Earth”, orang dapat mendeteksi
posisi dan kondisi ex perahu Nabi Nuh tersebut, ukurannya sekitar 150 x 50 m2.
Dengan ukuran sebesar itu maka adalah wajar bahwa didalam perahu tersebut juga
telah diangkut hewan-hewan besar dan kecil secara lengkap. Dari riwayat dan
kenyataan sekarang maka pada waktu itu telah terjadi kemusnahan kehidupan
didaratan yang sangat luas. Disamping semua itu dalam riwayat juga dijelaskan
bahwa usia Nabi Nuh As mencapai seribu tahun, ini merupakan segi lain yang juga
patut dijadikan bahan kajian para ahli sejarah. Dengan beberapa keterangan
tersebut dapat ditarik perkiraan kapan peristiwa tersebut terjadinya, yang
pasti kemungkinannya bisa lebih dari 10.000 tahun sebelum masehi, silahkan
diteliti oleh para ahlinya. Namun yang tetap menimbulkan pertanyaan adalah ada
rahasia apa yang tersembunyi dibalik semua itu, sehingga kepastiannya baru
ditemukan oleh para ahli pada tahun 2010 ini. Baiklah itu semua masalah yang
berkaitan dengan ex perahu Nabi Nuh AS. Sekarang perhatian kita coba dialihkan
kepada kaitan-kaitan lainnya.
Saya menggemari kecanggihan citra
satellit pada sarana komputer “Google-Earth” yang sangat akurat. Dengan sarana
tersebut kita dapat menjelajah permukaan bumi kemana saja bahkan dapat
mendeteksinya sampai detail pada level 250 m diatas muka daratan atau obyek.
Dengan pendeteksian demikian detail, maka kita dapat melihat benda-benda
dipermukaan bumi secara jelas dengan akurasi yang tinggi bahkan dapat juga dengan
penampilan perspektip, tiga dimensional. Kita dapat membaca data ketinggian
suatu permukaan daratan atau juga kedalaman lautan secara tepat, cepat dan
mudah sekali. Kecanggihan “Google-Earth” tersebut telah banyak membantu saya
mendeteksi arah qiblat masjid-masjid besar didunia, apakah arah qiblatnya
tepat/presisi atau tidak, semua hasilnya dapat langsung dilihat dan disimpan
datanya, berupa dokumen foto-JPG. Salah satu contoh bisa diambil yaitu, masjid
Raja Hassan II di Marokko Cassablanka ditepi laut, ternyata mempunyai arah
qiblat yang tepat menuju Ka’bah di Makkah.
Selain meneliti arah qiblat masjid,
saya juga pernah mencoba menarik garis “ruler” dari pusat bangunan Ka’bah
kearah dan sampai pada bangunan Piramyd di Giza Mesir. Dari hasilnya saya
menjadi sangat kagum sekali karena ternyata ketiga arah axis-diagonal Pyramid
(yang kearah tenggara) adalah persis sama yaitu semuanya menuju bangunan Ka’bah
di Masjid Al-Harom. Dalam hal itu saya berfikir apakah arah axis-diagonal ini
yang menuju Ka’bah adalah suatu kebetulan saja? Mungkin untuk sementara waktu,
kita dapat menganggap bahwa arah axis-diagonal tersebut memang suatu kebetulan,
apalagi bila kita meneliti dari sejarah bahwa Pyramid tersebut dibangun sekitar
3.000-4.000 tahun sebelum Masehi, dan dibangun dengan teknologi masa itu yang
masih sangat lokal. Apalagi waktu itu para Fir’aun disamping belum mengenal
Tuhan, tentunya tidak mengetahui secara persis letak kota Makkah, begitupun
kehidupan disana sama sekali tidak ada hubungannya dengan Makkah. Bahkan sampai
jaman modern inipun masyarakat dunia tidak pernah memperhatikan dan apalagi
memperdulikan kemanakah arah dari axis-diagonal Pyramid tersebut. Namun
demikian dari hasil pendeteksian citra satellit telah secara pasti dan akurat
bahwa arah axis-diagonal 3 Pyramid yang ke tenggara adalah tepat/persis menuju
bangunan Ka’bah. Hasil pencitraan “Google-Earth” sangat presisi/akurat sampai
pada ketinggian 300 m diatas obyek Pyramid dan Ka’bah (pengukuran itu tidak
dapat dilakukan dengan pesawat terbang atau teknologi lainnya).
Selanjutnya saya kembali teringat
akan hasil penemuan terahir di abad 21 ini yaitu fosil ex Perahu Nabi Nuh di
Turki. Saya mempunyai data satelit “Google-Earth” keberadaanya secara tepat
yaitu dilereng gunung Ararat pada ketinggian lebih dari 3.250 m diatas muka
laut. Dari data tersebut tergerak hati saya untuk mencoba-coba menarik garis
“ruler” dari posisi ex Perahu Nabi Nuh langsung kearah Pyramid di Giza Mesir.
Sebagai hasilnya menyebabkan saya sangat terperanjat, karena garis tersebut
persis sama dengan arah axis-diagonal Pyramid yang ke timur-laut. Dalam pada
itu juga saya berpendapat bahwa para Fir’aun tentunya tidak pernah mengetahui
letak ex Perahu Nabi Nuh, dan mereka tidak punya kepentingan sedikitpun
dengannya. Kurun waktu antara pembangunan Pyramid dengan Perahu Nabi Nuh adalah
sangat lama sekali, ribuan tahun, jadi pasti arah axis-diagonal Pyramid sama
sekali bukanlah atas pengetahuan dan kemauan Fir’aun serta rakyatnya pada waktu
itu, yang jelas adalah bahwa axis-axis diagonal ketiga Pyramid itu semuanya
sejajar.
Semua itu adalah invention-besar
abad-21. Baiklah semua riwayat itu kita cukupkan sekian dulu dan kita kembali
kepada hasil pendeteksian citra satelit dengan “Google-Earth”. Dengan adanya
dua percobaan tarikan garis “ruler” tersebut diatas, kemudian saya
menghubungkan ketiga monumen bersejarah tersebut, menjadi satu segitiga yang
sangat besar dengan total panjang sisinya 4.962,5 km, sebuah segitiga keajaiban
berskala dunia.
Dari gambaran segitiga besar itu
secara pasti dan akurat/mathematis terbukti bahwa axis-diagonal tiga Pyramid di
Giza Mesir masing-masing menuju ke ex Perahu Nabi Nuh As di Turki dan juga
menuju ke Ka’bah di Makkah Arab Saudi.
Sebagai kesimpulannya, bahwa bangunan Pyramid adalah sebuah monumen dunia yang tidak diragukan lagi keberadaannya, secara fisik memberikan petunjuk kepada keberadaan dua monumen dunia lainnya yaitu ex Perahu Nabi Nuh dan Ka’bah di Masjid Al Harom di Makkah. Inilah satu fenomena berskala dunia sepanjang sejarah kemanusiaan dari jaman Nabi Nuh As, jaman Nabi Musa As sampai sekarang, dan fenomena itu tidak akan hilang dari muka bumi sampai ahir zaman (kiamat).
Dibalik kenyataan fenomena tersebut
maka sudah barang tentu mempunyai kaitan dan pasti ada manfaatnya untuk seluruh
kemanusiaan didunia ini. Sebagai manusia yang berakal cerdas tentunya kita
semua menyadari dari lubuk hati yang paling dalam bahwa fenomena besar itu
adalah terjadi atas Kehendak Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa yaitu Allah
Swt. Mengapa Allah berkehendak demikian, tiada lain karena dunia dan segala
isinya ini adalah Ciptaan-NYA juga, jadi adalah wajar bahwa fenomena berskala
dunia yang sudah puluhan ribu tahun itu adalah juga Kehendak-NYA, demi untuk
kepentingan kemanusiaan seluruhnya. Baru sekaranglah keberadaan fenomena besar
itu terkuak secara jelas dengan bantuan teknologi moderen, semua itu dapat
dibuktikan secara actual. Selanjutnya tentunya kita berfikir, dengan adanya
satu fenomena besar itu, apakah juga berarti ada “pesan-tersembunyi” didalamnya?
Marilah kita merenunginya dan mentafakurinya secara mendalam, karena fenomena
besar itu disamping mengkaitkan tiga monument dunia, juga mengkaitkan tiga
kurun zaman yang sangat berbeda selama ribuan tahun. Marilah kita merenungi
makna dari “pesan- tersembunyi” dibalik tiga kepastian bukti yang sudah ada dan
sangat nyata itu.
Untuk bisa menyelami maknanya,
sebaiknya kita secara imaginer masuk ke era zaman para Fir’aun dan berdiri
diantara Pyramid, setelah (monumen) tiga buah Pyramid itu selesai dibangun, kemudian
kita secara imaginer mengikuti arah axis-diagonal ketiga Pyramid tersebut.
Satu arah yang menuju (timur-laut) ke ex Perahu Nabi Nuh, seolah memberikan pesan: “Lihatlah kemenangan dizaman yang sudah lampau yaitu keselamatan bagi kemanusiaan, dimana Nabi Nuh As dan kaumnya telah selamat dari banjir besar, semuanya berkat Petunjuk dari Tuhan”.
Kemudian satu arah lagi yang menuju
(tenggara) ke Ka’bah, seolah juga memberikan pesan: “Dan lihatlah juga
kemenangan dizaman yang akan datang yaitu keselamatan bagi kemanusiaan atas
Petunjuk Tuhan melalui Nabi Muhammad Saw, Al-Qur’an dan Ahlul-Bayt, sebagai
penyelamat seluruh kemanusiaan sampai datangnya hari kiyamat”. Seluruh bukti
yang disebutkan diatas adalah nyata, maka “pesan tersembunyi” itupun adalah satu
keniscayaan yang nyata pula dan tidak akan pernah terbantahkan, seperti
jugamatahari diwaktu siang.
Pada waktu ini kita semuanya dapat
menyaksikan semua bukti-bukti tersebut terkuak secara jelas dan pasti, karena
kita sudah dan sedang berada dizaman terahir yang menuju ke Hari Kiyamat yang
sudah di janjikan-NYA. Yang terpenting untuk kita adalah menentukan sikap dan
keputusan apakah kita ingin menjadi manusia yang terselamatkan dengan mengikuti
Petunjuk-NYA atau kita ingin mengabaikan semuanya itu, artinya tidak ingin
selamat? Semua itu terserah kepada kita masing-masing untuk menentukan pilihan,
keputusan dan tanggung jawab pribadi di akhirat kelak. Masih ada cukup waktu
untuk berfikir dan memilih serta mengambil keputusan terahir bagi masing-masing
secara pribadi. Saya tidak bermaksud mempengaruhi siapapun, hanyalah sebatas
memberikan bukti-bukti ilmiyah yang sangat nyata dalam dimensi ruang dan waktu
yang tidak terbantahkan sampai datangnya hari kiamat.
Rekor
Dunia yang Dipegang oleh Kapal Nabi Nuh
Tolong Anda sebutkan berapa lama
jarak masa yang terbentang di antara pengutusan para nabi Ulul Azmi? Tiada
penjelasan akurat dokumen-dokumen sejarah terkait dengan berapa jarak masa yang
terbentang di antara pengutusan para nabi Ulul Azmi. Namun dalam sebagian
literatur disebutkan beberapa hal yang berbeda-beda yang dari kesemua itu dapat
ditarik kesimpulan sebagaimana berikut ini:
Jarak Nabi Adam As hingga Nabi Nuh As adalah lebih dari 1.200 tahun lamanya. Jarak antara Nabi Nuh As hingga Nabi Ibrahim As adalah 2.240 tahun. Jarak antara Nabi Ibrahim As hingga Nabi Musa As adalah 900 tahun. Jarak antara Nabi Musa As hingga Nabi Isa As adalah 1.900 tahun. Dan jarak antara Nabi Isa As hingga Nabi Muhammad Saw adalah 620 tahun lamanya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Shadiq As bersabda, “Antara Nabi Nuh As dan Nabi Ibrahim As terbentang jarak seribu tahun lamanya.”
Allah memerintahkan Nuh untuk
membuat bahtera. Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang
kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun. Melalui wahyu-Nya, Allah
membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan
banjir. Berikut rekor dunia yang dipegang oleh Bahtera Nuh :
1.
Bahtera Nuh Dipimpin Oleh Nahkoda Tertua Di Dunia (berusia 600 th).
Ibnu Abbas menceritakan Bahwa nabi Nuh diutus pada kaumnya ketika berumur 480 tahun. Masa kenabiannya adalah 120 tahun dan berdakwah selama 5 abad. Dia mengarungi banjir ketika ia berumur 600 tahun dan kemudian setelah banjir ia hidup selama 350 tahun.
2.
Bahtera Nuh Merupakan Kapal Terbesar Di Dunia Yang Terbuat Dari Kayu.
Ibnu Abbas menceritakan Bahwa Suatu ketika Nabi Isa menghidupkan Ham bin Nuh dan bertanya kepadanya kenapa rambutnya beruban, ia menjawab dia meninggal di saat usia muda karena ketakutannya ketika banjir. Ia berkata bahwa panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan.
3.
Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia.
Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Bahtera Nuh dianggap merupakan alat angkutan laut pertama di dunia.
4.
Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia Yang Terbuat Dari
Kayu
.
Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun.
Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun.
5.
Bahtera Nuh Merupakan Kapal Angkut Bertingkat Pertama Di Dunia (3 tingkat).
Panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan. Tingkat pertama diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah dijinakkan, tingkat kedua ditempatkan manusiaingkat ketiga untuk burung-burung.
6.
Bahtera Nuh Merupakan Kapal Yang Belayar Tertinggi Dari Dasar Laut.
Menurut Al Quran, bahtera Nuh telah mendarat di Bukit Judi. Ada pendapat yang menunjukkan suatu gunung di wilayah Kurdi atau tepatnya dibagian selatan Armenia, ada pendapat lain dari Wyatt Archeological Research, bukit tersebut terletak di wilayah Turkistan Iklim Butan, Timur laut pulau yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai Jazirah Ibnu Umar (Tafsir al-Mishbah).
7.
Bahtera Nuh Adalah Kapal Anti Topan Dan Banjir Pertama Di Dunia.
Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir.
8.
Bahtera Nuh Adalah Kapal Pertama Yang Berlayar Tanpa Kompas.
Setelah bahtera itu selesai, Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut.
9.
Bahtera Nuh Dinahkodai Bukan Ahli Ilmu Kelautan Dan Perbintangan.
Nuh adalah seorang nabi yang diceritakan dalam Taurat, Alkitab, dan Al-Quran. Nuh diangkat menjadi nabi sekitar tahun 3650 SM. Diperkirakan ia tinggal di wilayah Selatan Irak modern.
10.
Bahtera Nuh Adalah Satu-Satunya Kapal Angkut Dengan Penumpang Paling Sedikit
pertama Di Dunia.
Ibnu Thabari menceritakan setelah kapal berlabuh di pegunungan Ararat, ia kemudian membangun suatukota di daerah Ararat (Qarda) disuatu areal yang termasuk Mesopotamia dan menamakan kota tersebut Themanon (Kota delapan Puluh) karena kota tersebut dibangun oleh orang yang beriman yang berjumlah 80 orang.
11.
Bahtera Nuh Adalah Kapal Angkut Yang Mengangkut Jenis Binatang Berpasangan
Terbanyak Di Dunia.
Nuh memiliki 4 anak laki-laki: Kan’an, Sem, Ham, dan Yafet. Menurut kitab Kejadian, pada jamannya terjadi air bah yang menutupi seluruh bumi; hanya ia sekeluarga (istrinya, ketiga anaknya, dan ketiga menantunya) dan binatang-binatang yang ada di dalam bahtera Nuh yang selamat dari air bah tersebut.
12.
Bahtera Nuh Satu-Satunya Kapal Yang Mendarat Di Gunung.
Berdasarkan foto yang dihasilkan dari gunung Ararat, menunjukkan sebuah perahu yang sangat besar diperkirakan memilik luas 7.546 kaki dengan panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki dan masih ada tiga tingkat lagi diatasnya.
13.
Bahtera Nuh Adalah Kapal Yang Mengarungi Banjir Terlama Di Dunia.
Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut. Nuh menunggu hingga bumi benar-benar kering sebelum membuka pintu bahtera.
Foto-foto
Bukti Penemuan Perahu Nabi Nuh
1.
Awal Penemuan
Pemotretan awal oleh Angkatan Udara
AS di tahun 1949 tentang adanya benda aneh di atas Gunung Ararat-Turki, dengan
ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600 meter).
Kemudian, awal tahun 1960, berita
dalam Life Magazine: Pesawat Tentara Nasional Turki menangkap sebuah benda
mirip perahu di puncak gunung Ararat yang panjangnya 500 kaki (150 meter) yang
diduga perahu Nabi Nuh AS (The Noah’s Ark)
3.
Peta Lokasi Perahu Nabi Nuh
5.
Situs Perahu Nabi Nuh sebelum dibersihkan
7. Foto-foto Detail Penemuan Kapal Nabi Nuh
Terima kasih anda baru saja membuka
“ Penemuan bahtera Nabi NUH.AS “























Tidak ada komentar:
Posting Komentar